Aktualisasi Nilai-nilai Kebangsaan

on Rabu, 23 Juni 2010


Kami mempunyai pertanyaan nih, ya kira kira cukup dua pertanyaan saja. Yang pertama, mengapa sih kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masih belum bisa teratasi? Dan yang kedua, bagaimanakah cara kita memutuskan suatu lingkaran setan yang dapat membuat bangsa kita terhindar oleh arus globalisasi yang negatif ? Kami menemukan suatu artikel dari Majalah Mimbar yang insyaallah dapat menjawab dua pertanyaan tadi. Artikel tersebut kami rasa sangat menarik untuk dibaca.
Detik - detik bersejarah yang menentukan hidup matinya suatu bangsa. Proklamasi kemerdekaan, tepat pukul 10.00, 17 Agustus, 60 tahun yang lalu di kumandangkan. Ini berarti, rantai membelenggu rakyat Indonesia telah lepas, Bangsa Indonesia tidak lagi berada dalam kungkungan penjajah.
Namun perjuangan belum selesai. Di saat para pendiri negara, mencoba menata pemerintah sendiri, masuk provokasi, karena Jepang kala dalam perang dunia ke II. Indonesia sebagai bekas jajahannya, diakui menjadi milik Negara yang termasuk dalam kelompok pemenang. Masuklah tentara sekutu. Spontan rakyat Indonesia melakukan perlawanan. Pemuda dan seluruh rakyat Indonesia di berbagai penjuru di tanah air bersatu. Mereka mempunyai tekat yang sama : tidak mau di tindas lagi. Sikap tegas yang disertai dengan pengorbanan jiwa, raga dan harta demi cita – cita luhur proklamasi.
Semangat perjuangan dan rasa nasionalisme yang mendalam telah ditunjukkan oleh para pendahulu. Mereka sngat mencintai bangsa dan tanah airnya. Para pejuang itu rela berkorban demi pemerintahan kemerdekaan negaranya. Jiwa patriotisme tumbuh berkembang menjadi Wahana pemersatu bangsa. Semangat nasionalisme yang dilandasi oleh iman dan keyakinan akan datangnya pertolongan Yang Maha Kuasa, Allah Swt, menghasilkan kemerdekan. Proklamasi kemerdekaan merupakan akumulasi dari rasa senasip sepenanggungan selama menjadi rakyat jajahan bertahun – tahun. Rasa kebersamaan dan kecintaan pada tanah air mampu mengatasi berbagai perbedaan Bangsa In donesia yang plural – beragam – meliputi berbagai suku, etnis, budaya, tingkat sosial, ekonomi, pendidikan dan juga paham keagamaan. Nasiolisme dan patriotisme yang kuat menciptakan persatuan dan kesatuan, sebangsa dan setanah air.
Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat merdeka. Kemerdekaan yang kita peroleh bukanlah hasil perjuangan semerta semua orang yang lahir dan hidup di bumi nusantara. Buah kemerdekaan yang diharapkan yaitu kemakmuran dan keadilan sosial, sudah layaknya menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Hasil-hasil pembangunan sebagai berkat dari kemerdekaan tidak patut bila hanya dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang berpeluang saja.
Semangat kebangsaan akhir-akhir ini dirasakan makin luntur. Sifat dan sikap gotong royong dan saling membantu yang menjadi karakter bangsa Indonesia, dikalahkan oleh sifat vested interest-mementingkan diri sendiri dan sifat materialistis individualistis. Hal ini tampak pada sebagian orang yang bila mendapatkan peluang cenderung korup dan memperkaya diri. Sekalipun bangsa dalam kondisi kritis, banyak balita terkena busung lapar, anak-anak bunuh diri karena malu tidak dapat membayar tunggakan SPP, kelangkaan BBM, mati karena wabah diare, penyakit lumpuh layu, polio hingga himbauan hemat listrik dan energi, sebagian orang belum tumbuh juga sense of crisis, kepekaan dan tasa keadilan sosial. Mereka tidak ambil pusimg terhadap penderitaan orang lain dan nasib generasi mendatang, yang diutamakan hanyalah kepentingan diri sendiri untuk saat ini.
Jiwa pengorbanan yang pernah dimiliki oleh para pahlawan bangsa, kini hampir sirna. Keringat dan darah mereka tumpahkan demi kemerdekaan bangsa dan negaranya, hasil pengorbanan dan perjuangan mereka, kini kita yang menikmati. Sungguh suatu pengkhiatan yang besar, bila kita saat ini tidak pandai mensyukurinya. Semangat kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air dari pahlawan kemerdekaan mengangkat derajat dan martabat bangsa. Tingginya kadar semangat dan keikhlasan mereka menumbuhkan inisiatif dan aksi dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan gigih dan tabah. Dalam jangka panjang, sejak perjuangan yang bersifat local dan sporadic, hingga yang bercorak nasional-kurun waktu 1928 hingga 1945-mencerminkan betapa hebat dan dahsyatnya semangat perjuangan mereka.
Lunturnya jiwa patriotisme dan kurangnya kepedulian terhadap nilai-nilai kebangsaan, disebabkan oleh banyak faktor. Antara lain, pertama, tidak adanya kebersamaan antar berbagai status ekonomi dan sosialnya. Kedua, pemahaman akan nilai-nilai perjuangan bangsa yang kurang. Ketiga, pergeseran pola piker sebagai dampak dari budaya global dan derasnya arus informasi. Cara berpikir orang saat ini serba praktis, pragmatis dan cenderung materialistis.
Globalisasi mengubah pola piker dan pola hidup. Hedonisme dan konsumerisme merambah kehidupan masyarakat modern hidup glamour dan hura-hura telah menghancurkan idealisme dan menciptakan erosi kepribadian. Tradisi baru menggantikan cara hidup ketimuran yang penuh ketenangan dan kedamaian. Kehidupan modern yang gemerlapan beraroma alcohol melumatkan nilai-nilai luhur bangsa. Jiwa dan semangat patriotisme makin jauh dari generasi yang berada di bawah bayang-bayang narkoba.Kekhawatiran akan lenyapnya semangat kebangsaan tidak boleh membuat bangsa ini menghentikan langkah untuk berkembangan. Generasi bangsa dalam era millennium ketiga ini mesti punya pegangan hidup yang kuat. Agar tidak tertindas oleh arus globalisasi. Profesionalisme adalah tuntutan zaman. Sains dan teknologi yang pesat merupakan karunia Allah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya yang menggunakan akal pikirannya. Namun nilai-nilai spiritual keagamaan harus tetap dijadikan sebagai pegangan hidup yang kokoh.Regenerasi terus berjalan. Tongkat estafet selalu berpindah tangan. Hubungan antara perintis dengan generasi berikutnya tidak boleh putus. Pewarisan nilai-nilai dan semangat proklamasi terus berlangsung. Mengemban amanat, mengisi kemerdekaan, menggapai cita-cita proklamasi menjadi kewajiban generasi penerus. Untuk menyiapkan generasi yang berkualitas dan bermoral, guna memenuhi harapan leluhur, perlu diperhatikan pendidikannya. Kita patut bersyukur bahwa pendidikan putra-putri Indonesia makin maju dan berkembang setelah memasuki kemerdekaan. Berbeda dengan pendidikan dimasa penjajahan. Anak-anak bumi putera dikekang.
Tidak diberi kesempatan melanjutkan sekolahnya. Persoalannya terletak pada pemerataan. Pendidikan untuk semua yang kita dambakan setelah merdeka, belum terwujud. Sementara sebagian putra-putri Indonesia ke jenjang yang tinggi, sebagian yang lain masih banyak yang tertinggal. Angka putus sekolah tingkat dasar maupun tingkat menengah masih cukup besar. Kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masih belum teratasi. Suatu lingkaran setan yang harus segera diputus, jika bangsa ini tidak ingin terlindas oleh arus globalisasi.
Sumber : Pembangunan Agama MIMBAR, Agustus 2005

0 komentar:

Poskan Komentar